Kanpeki na Sako-san wa Mobu (Boku) Mitai ni Naritai Chapter 4 Bahasa Indonesia

Kanpeki na Sako-san wa Mobu (Boku) Mitai ni Naritai Chapter 4 Bahasa Indonesia

Kanpeki na Sako-san wa Mobu (Boku) Mitai ni Naritai - Chapter 4
------

(POV Sako Machika)

Setelah aku mulai membuat kotak makan siangku sekitar jam setengah 5 pagi, aku akhirnya mencapai tahap akhir. Aku selesai membuat lauk pauk, sekarang hanya tinggal memasukkannya. Sebagian besar waktuku biasanya hanya untuk membuat bento untuk diriku sendiri, tetapi hari ini aku tidak hanya membuat bagianku sendiri namun juga untuk Tsuyoshi-kun. Untuk itu, aku meminjam kotak makan siang dari Ayah.

Aku sadar bahwa membuat bento adalah cara kuno untuk menyerang, tetapi aku tidak peduli dengan pandangan orang lain tentangku. Dan hari ini adalah kesempatan sempurna untuk strategi ini. Biasanya Tsuyoshi-kun dan Isaka-kun makan siang di kantin, tetapi karena klubnya, Isaka-kun tidak bisa terlalu sering. Itu membuatnya lebih mudah untuk memberi Tsuyoshi-kun kotak makan siang ini.

Dan dengan itu, pekerjaanku selesai. Kotak bento berwarna biru laut adalah milik Tsuyoshi-kun, dan kotak kuning yang lebih kecil adalah milikku. Tapi karena membuat kotak makan siang akan memamerkan kefeminimanku, yang tidak aku inginkan, aku menambahkan rasa aneh pada makan siangnya. Aku pada dasarnya akan menunjukkan betapa cerobohnya diriku.

"Hehehe."

Membayangkan tanggapan Tsuyoshi-kun, aku tertawa sendiri. Begitu dia makan siang ini, dia pasti akan berhenti menyebutku sempurna. Dan sambil merasa bersemangat, aku membungkus kotak makan siang itu dengan kain.

---

(POV Tsuyoshi Haru)

Lonceng yang menandakan berakhirnya kelas siang berbunyi. Begitu guru meninggalkan kelas, semua orang mengeluarkan kotak makan siang mereka atau ada pun yang menuju ke kantin sekolah dan toko sekolah untuk membeli makan siang mereka.

"Takumi, kelas sudah selesai. Ayo kita ke kantin."

"Mm...Ah, ya..."

Takumi sangat ahli dalam tidur di kelas, tidak pernah diperingatkan oleh gurunya. Dia bahkan muncul untuk saat pemanggilan siswa. Dia sekarang menggosok matanya yang mengantuk dan berdiri.

"Aku harus pergi ke lapangan olahraga, maaf."

"Oh ya, menguras air."

"Hujan kemarin sangat buruk."

Pengeringan air dimaksudkan untuk klub olahraga untuk menghilangkan genangan air dengan spons atau kain debu. Untuk memggunakan waktu latihan mereka secara efektif setelah kelas, mereka tampaknya mulai melakukan ini selama istirahat makan siang. Pasti sulit menjadi bagian dari klub bisbol. Takumi meninggalkan kelas, meninggalkanku sendirian. Karena selalu begini setelah hari hujan, aku tidak terlalu terganggu olehnya. Aku hanya akan membeli roti dari toko sekolah. Dengan keputusan itu, aku berdiri dari tempat dudukku dan hendak meninggalkan kelas, ketika sebuah suara menghentikanku.

"Tsuyoshi-kun, tunggu sebentar."

Berbalik, Sako-san berjalan ke arahku dengan kotak makan siang di tangan. Dan kemudian, dia mendorong tangan kanannya ke arahku, dengan kotak makan siang yang terbungkus.

"Aku membuatkanmu makan siang.  Mari makan bersama?"

Kotak makan siang buatan sendiri?! Belum lagi dari Sako-san, yang dikabarkan pandai memasak. Bisakah aku benar benar makan sesuatu seperti ini? Namun, ketika aku melihat sekelilingku, aku menyadari bahwa ini bukan waktunya untuk merasa bahagia. Semua tatapan teman sekelasku diarahkan padaku. Terutama dari cowok kelasku, tatapan mereka setajam pisau. Mereka dipenuhi dengan kecemburuan dan permusuhan.

Pada saat yang sama, para cewek hanya penasaran dengan kejadian ini. Aku khawatir tentang rumor yang akan lahir dari kejadian ini. Bagaimanapun, aku hanya ingin keluar dari kelas ini secapat mungkin. Aku tidak akan bisa makan apapun dalam suasana tegang ini. Aku menerima kotak makan siang yang dibungkus dan melangkah keluar dari kelas. Setelah itu, aku memberi isyarat kepada Sako-san.

"Ayo, aku tahu tempat yang sempurna untuk makan dengan tenang."

Untungnya, ruang konseling bimbingan masa depan kosong bahkan saat makan siang. Shibato-sensei mungkin sedang makan di tempat lain. Aku menyalakan lampu ruang wawancara dan duduk di sofa. Sako-san duduk di seberang meja. Sebagai tambahan, Sako-san mengembalikan roknya kembali ke panjang normalnya, meskipun sebelumnya menyatakan bahwa dia akan membuatnya tetap pendek.

"Bisakah kita benar benar makan siang di sini?" Sako-san melihat sekeliling ruangan.

"Tentu baik baik saja."

Makan di sini sebenarnya dilarang, tapi Shibato-sensei tidak akan marah dengan hal kecil, jadi seharusnya tidak masalah. Dan karena aku menyadari semua kesalahan sensei, dia tidak bisa mengancamku, apalagi marah.

"Kalau begitu tidak apa apa! Ayo mulai makan!" Sako-san tampak bersemangat saat dia membuka kotak makan siangnya sendiri.

Sebelum aku membuka milikku, aku mengajukan pertanyaan yang membuatku penasaran.

"Bisakah aku benar benar makan ini?"

Tentu saja, aku sangat senang dengan bentu buatan sendiri ini, tetapi aku akan merasa tidak enak menerimanya dari gadis yang baru saja aku tolak. Itu sebabnya aku ingin bertanya sekali lagi. Namun, tangan Sako-san tiba tiba berhenti, dan dia menatapku dengan tatapan sedih.

"Kau tidak menginginkannya...?" Alisnya menciptakan ekspresi sedih.

"Tidak! Aku akan dengan senang hati menerimanya!"

Itu benar, dia membuat kotak makan siang ini untukku, jadi tidak sopan untuk tidak memakannya. Aku akan mengunyahnya seperti itu makanan paling enak yang pernah ada. Aku membuka bungkusan makan siang, disambut dengan kotak dua jajar.

"Wow...!"

Bento Sako-san membuatku mengeluarkan air liur. Ayam goreng, telur dadar gulung, sayuran rebus dengan kecap, salmon matang, salad kentang. Itu semua lauk pauk yang khas, membuatku merasa seperti baru saja membuka kotak harta karun. Nasi putih dikemas menjadi nori bento, tampak sama lezatnya.

“Kamu yang membuat ini, kan, Sako-san?”

"Ya."

"Wow…! Aku belum pernah melihat kotak makan siang yang tampak begitu lezat.”

"Hehe terima kasih! Silahkan dimakan. ”

"Terima kasih atas makanannya!"

Aku mengambil sumpitku, dan yang pertama ayam goreng. Sako-san menatapku sepanjang jalan, yang membuatku agak sulit untuk makan, tapi kurasa dia bersemangat. Dengan tampilan makanan yang enak, aku yakin rasanya tidak akan mengecewakan. Ayam gorengnya juga dibuat persis seperti yang kusuka. Aku memasukkannya ke dalam mulutku, merasakan sensasi berkerak di setiap gigitan, ketika minyak daging mulai mengisi mulutku. Rasanya ini e…ena…tidak enak sama sekali. Sebaliknya, itu sangat buruk.

Aku menggigit daging, Kau biasanya akan disambut dengan rasa daging, namun yang satu ini sama pahitnya dengan obat. Memang ini adalah rasa daging, namun rasanya tidak seperti itu sama sekali. Apa yang sedang kumakan ini? Aku menelan ayam goreng dengan upaya terbaikku, tetapi rasa pahit sudah memenuhi mulutku. Sepertinya aku gagal meminum bubuk obat.

"Dan? Bagaimana itu?" Sako-san menunjukkan senyum mempesona padaku.

Sejujurnya itu sangat buruk sehingga aku bahkan berjuang untuk menyimpannya di mulutku, tetapi aku tidak bisa memberitahunya. Dia pasti berusaha sangat keras untuk membuat ini, jadi aku tidak ingin menyakitinya.

"Sangat lezat."

Ada kemungkinan besar dia gagal membuat ayam goreng, dan sisanya baik-baik saja. Maka seharusnya aku akan baik baik saja untuk mencoba yang lain. Lalu…selanjutnya adalah telur dadar gulung. Mereka bersinar dalam warna emas cerah, mempertahankan bentuk yang tepat. Mereka tampak hebat, aku harus mencobanya. Aku mengambil satu telur dadar dengan sumpitku dan membawanya ke mulutku—namun aku berhenti ditengah jalan. Telur ini mengeluarkan bau busuk yang kuat. Hanya menyimpannya di depan wajahku sudah cukup bagiku untuk mengatakannya. Mengapa? Apakah dia menggunakan telur busuk? Apakah dia membuat ini untuk membunuhku?

"Ada yang salah? Tanganmu tiba-tiba berhenti.” Sako-san tampak bingung.

Dia akan sadar jika aku tidak memakannya! Melihat tidak ada pilihan lain, aku memasukkan telur dadar ke dalam mulutku. Aku berharap banyak, tetapi bau busuk memenuhiku dengan keinginan untuk muntah. Itu terlihat sangat normal di luar, jadi bagaimana dia bisa mengacaukan ini?

“T-Telur dadar… juga enak.”

"Betulkah? Aku sangat bahagia!"

Jika hanya ada satu anugrah, maka itu pasti senyum berseri-seri Sako-san. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengungkapkan apapun agar dia bisa terus tersenyum seperti itu. Masih banyak lauk yang tersisa. Beberapa dari mereka seharusnya lezat. Aku sekarang akan mencoba nasi putih sederhana ini. Tidak mungkin dia bisa mengacaukan rasa dari sebuah nasi saja. Namun, begitu aku memasukkannya ke dalam mulutku, aku merasakan manis yang luar biasa. Dan itu mengeluarkan aroma yang aneh.

Sebut saja berumput, atau laut, itu adalah aroma yang seharusnya tidak  kuambil di sini dalam konteks ini. Aku menahan keinginanku untuk menutup hidung dan menelan nasi. Sebuah memori melintas di belakang kepalaku. Tempat pembuangan sampah laut. Aromanya mengingatkanku pada tempat pembuangan sampah untuk sampah yang terdampar di sebuah pantai. Bahkan nasinya terasa tidak enak. Sepertinya tidak ada jalan keluar dari neraka bahkan jika aku mengandalkan nasi putih.

Aku tidak ingin membuat Sako-san sedih, jadi aku mempersiapkan diri untuk makan semuanya, tapi itu semakin sulit. Aku hampir tidak mengambil tiga gigitan. Pada saat yang sama, perutku keroncongan, belum tentu karena lapar.

“Fufu, sepertinya kamu sangat lapar, Tsuyoshi-kun.”

“Ya, aku lapar…”

Aku berbohong dengan wajah datar. Suara gemuruh ini pasti suara minta tolong dari perutku. Aku akan sangat menderita ketika aku pulang hari ini.

“Apakah kotak makan siang ini cukup? Aku tidak tahu berapa banyak yang biasanya kamu makan saat makan siang. ”

“Ah, ya, aku baik-baik saja.”

Jika memungkinkan, aku lebih suka tidak makan lagi. Aku bahkan tidak akan terkejut jika kotak makan siang ini telah membunuh orang sebelumnya. Namun, seburuk apa pun, membuat Sako-san merasa sedih akan lebih menyakitkan. Aku sudah menyakitinya sekali dengan menolak pengakuannya, jadi aku tidak bisa melakukannya untuk kedua kalinya. Aku mengambil keputusan dan menyiapkan sumpitku.

Aku menghabiskan semua lauk pauk dan nasi putih. Semakin banyak yang kumakan, semakin mulutku berteriak ketakutan, dan aku bahkan tidak bisa membedakan rasa masakannya. Lidahku mati rasa, aku mulai mengeluarkan air mata, dan aku mengalami kesulitan bernapas. Setelah sekitar sepertiga dari kotak makan siang tersisa, tubuhku mencapai batasnya, ketika rasa sakit yang tajam memenuhi perutku.

Bukan hanya sakit perut ringan, aku merasakan bagian dalam perutku terkoyak. Itu adalah sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya. Butir-butir keringat terbentuk di dahiku, saat aku menggertakkan gigiku.

“Apakah itu tidak enak?”

Otot-otot punggungku membeku. Kurasa itu terlihat di wajahku.

“Tidak, tidak, ini sangat enak.”

“Tapi sepertinya kamu kesakitan. Ini sebenarnya buruk, kan?”

“T-Tidak, aku menyukainya. Aku bersungguh-sungguh.” Aku berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum dan tidak menunjukkan apapun.

Namun, Sako-san terus menyeringai padaku.

"Tidak apa-apa, kamu bisa jujur."

Kenapa dia tersenyum? Bukankah dia akan sedih mengetahui makanannya tidak enak?

"Tidak, itu benar-benar enak."

"Hmph, jadi kamu tidak akan mengakuinya apa pun yang terjadi, ya."

Sako-san sepertinya masih bersenang-senang. Dia mungkin tahu bahwa aku berusaha keras, dan menggodaku. Melihat meja di depanku, aku menyadari sesuatu. Sako-san bahkan belum menyentuh kotak makan siangnya sendiri.

“Apakah kamu tidak akan makan apa-apa, Sako-san? Istirahat makan siang akan segera berakhir.”

Aku menyadari sesuatu. Jika Sako-san memakan makan siangnya sendiri, dia mungkin menyadari betapa buruk rasanya. Aku mengatakan ini dengan sebuah harapan, tetapi Sako-san menanggapi dengan senyum cerah.

“Aku bisa makan nanti. Sebaliknya, aku hanya ingin melihatmu memakan bento yang kubuat.

Kamu benar-benar tidak perlu! Silakan makan dari bentomu sendiri!

"Kami masih memiliki kelas setelah ini, jadi kamu harus makan sesuatu sekarang atau kamu tidak akan berhasil melewati sisanya."

“Aku tidak terlalu banyak makan di siang hari, jadi tidak apa-apa.”

Tapi perutku tidak baik-baik saja, oke! Aku masih memiliki sepertiga yang tersisa, tetapi perutku sudah menjerit ketakutan dan kesakitan. Instingku menyuruh lenganku untuk bergerak, tapi tubuhku tidak mau bergerak. Aku membeku seperti patung batu ketika Sako-san menghela nafas pelan.

"Heh, kamu benar-benar tidak ingin makan lagi, ya?"

Senyumnya hampir terasa sadis bagiku.

“Bukan itu masalahnya. Aku tidak sabar untuk makan lebih banyak.”

Atau begitulah yang dikatakan mulutku, tapi tanganku tidak bergerak.

“Lalu…” Bibir Sako-san membentuk senyuman saat pipinya berubah warna menjadi merah samar. "Aku akan memberimu makan."

"Hah?"

Dia mencuri sumpitku, mengambil telur dadar gulung.

“Ini, buka lebar~” Dia mendorong telur dadar itu ke arahku dengan senyum berseri-seri.

Itu yang biasanya dilakukan pasangan. Sebagai anak laki-laki, aku selalu menginginkan situasi seperti ini. Namun, telur dadar yang digulung itu berbahaya. Kamu tidak akan bisa menipuku.

"Bukankah ini sesuatu yang harus kamu lakukan dengan pacarmu?"

“Tidak ada yang menonton, jadi tidak apa-apa. Ayo, buka.”

Telur dadar didorong ke hidungku, baunya merangsang otakku.

Kanpeki na Sako-san wa Mobu (Boku) Mitai ni Naritai Chapter 4 Bahasa Indonesia

“Karena kamu orang yang baik, Tsuyoshi-kun, kamu akan memakannya untukku, kan?”

"Tidak, aku sama sekali tidak baik."

“Tapi ketika kamu menolakku, kamu meluangkan waktu untuk memikirkannya dengan benar, bukan?”

“Uhh...”

Tolong hentikan. Aku lemah jika kamu membicarakan topik itu.

“Ini, buka lebar~”

Meskipun adegan seperti ini akan menjadi sesuatu yang membuat setiap anak laki-laki iri, mau tak mau aku merasa bingung dan khawatir. Senyum Sako-san tiba-tiba terasa sangat berbahaya, seperti dia telah berubah menjadi ilmuwan gila.

"Ayo, buka mulutmu."

Sako-san terus mendorong telur dadar gulung ke arahku seolah mendesakku. Aku menyerah dan menelannya langsung tanpa mengunyah. Pada saat yang sama, sakit perutku semakin parah.

“Yang mana yang harus kupilih selanjutnya?”

Sako-san sepertinya belum puas dan membawa lauk berikutnya ke mulutku. Yang bisa kulakukan hanyalah menekan rasa sakit di perutku. Melihat ini terjadi, Sako-san semakin tersenyum. Yang bisa aku lakukan hanyalah fokus untuk tidak memuntahkan semua yang ada di perutku. Rasanya tubuhku mau pecah. Aku hanya masih hidup karena aku tidak ingin menunjukkan penampilan menyedihkan di depan Sako-san. Akhirnya, aku mencapai gigitan terakhir dari kotak makan siang. Sako-san mengumpulkan sisa kecil di dalam kotak dan mendorongnya ke arahku.

“Aaaa.”

“A-aaa…”

Aku menelannya seperti pil. Dan akhirnya, kotak makan siang itu kosong. Pertempuranku akhirnya berakhir. Aku entah bagaimana berhasil melewati ini tanpa menyakiti Sako-san…Ketika aku merasa lega setelah penderitaan panjangku, semua rasa sakit secara ajaib menghilang. Atau lebih tepatnya, aku menjadi tidak bisa merasakan sakit yang sebenarnya. Dan karena ini juga, indra perasaku sepertinya telah mati. Mungkin tidak akan lama sampai aku benar-benar pingsan. Bahakan aku tidak bisa menahan tubuhku yang menggigil, aku menjatuhkan diriku ke sofa.

---

(POV Sako Machika)

Kesimpulan hari ini, Tsuyoshi-kun berhasil selamat, dan kami tidak perlu memanggil ambulans untuknya. Namun, setelah menghabiskan seluruh sisa kelas di toilet, ia kemudian melanjutkan untuk beristirahat di UKS selama kelas terakhirnya. Meski begitu, dia masih belum pulih sepenuhnya setelah kelas berakhir, jadi Mayuko dan aku memutuskan untuk mengunjunginya.

Setelah dia pingsan, Mayuko dan aku menguji kotak makan siangku. Itu telah melampaui tingkat menjijikkan, mencapai titik aku akan menjadi kriminal jika membiarkan manusia memakannya. Itu bahkan tidak bisa dimakan sebagai makanan hewan peliharaan. Kami berjalan menyusuri lorong yang dingin ketika Mayuko tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya lagi.

"Dan Tsuyoshi memakan seluruh makan siang itu?"

"Ya…"

Lebih tepatnya, aku memaksanya untuk memakannya. Saat itu, aku sangat senang melihatnya berjuang untuk memakannya, aku tidak menyadari bahwa dia benar-benar pucat.

“Machika, itu sangat buruk, kau tahu itu?”

"Ya…"

Saat Mayuko dan aku makan siang sebentar, kami hampir muntah. Kami bergegas ke toilet dan membilas mulut kami, tetapi rasa tidak enak masih memenuhi mulutku. Berkat itu, Mayuko terus mengomel selama ini.

“Aku pikir kamu harus menyadari bahwa ada batasan untuk hal-hal semacam ini, Machika.”

"Aku tidak berpikir itu akan menjadi seburuk ini... aku minta maaf..."

Kami tiba di UKS ketika Isaka-kun keluar.

“Sako dan Nishida? Maaf, tapi aku harus pergi ke klubku. Sampai bertemu." Dia berkata dan berjalan pergi dengan punggung menghadap kami.

Kurasa aku melakukan sesuatu yang buruk, bahkan mengganggu Isaka-kun dengan ini.

"Saat ini, kamu hampir seperti pembunuh." Mayuko mengatakan itu sambil menunjuk ke pintu.

Aku menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu. Segera setelah itu, aku bertemu dengan aroma desinfektan nostalgia.

“Um, saya ingin mengunjungi Tsuyoshi-kun.”

"Ya ya, dia ada di sini."

"Terima kasih banyak."

Perawat memberitahuku di mana Tsuyoshi-kun berada, jadi aku berdiri di depan tirai. Dia mungkin marah padaku atau menyalahkanku atas apa yang terjadi. Tapi meski begitu, aku harus meminta maaf. Aku memejamkan mata dan dengan tenang memanggil anak laki-laki di balik tirai.

“Tsuyoshi-kun, ini aku, Sako. Bolehkah aku masuk?"

"Silahkan."

Aku membuka tirai, menemukan Tsuyoshi-kun dengan wajah putih, kehilangan semua energinya yang biasa. Penampilannya yang melemah bertindak seperti pisau yang menusuk dadaku.

“Tsuyoshi-kun! Aku perlu memberitahumu sesuatu—”

"Tidak apa-apa, itu enak," kata Tsuyoshi-kun dengan nada meyakinkan.

Tidak ada batasan untuk kebaikan Tsuyoshi-kun. Meskipun aku hampir membunuhnya dengan kotak makan siang pembunuhku, dia tampak seolah-olah dia telah mengampuni salahku. Namun, aku datang ke sini untuk meminta maaf, jadi mengandalkan kebaikannya bukanlah pilihan.

“Apa bagusnya kotak makan siang itu…?”

“Ayam gorengnya agak dingin tapi garing banget. Dan telur dadar itu digulung dengan sangat indah.”

"Apa lagi?"

“Kentang dari salad kentang juga dihaluskan dengan cara yang benar.”

"Apa lagi?"

“Tanpa tulang, salmon panggang sangat mudah dimakan.”

Dia tidak mengomentari rasanya sama sekali! Tetapi pada saat yang sama, aku terkejut dia berhasil menemukan begitu banyak hal lain untuk dibicarakan. Seperti yang aku pikirkan, Tsuyoshi-kun adalah tipe orang yang benar-benar melihat melalui detail yang sangat kecil. Secercah kecil kerakusan membara di dalam diriku. Aku ingin Tsuyoshi-kun makan siang yang kubuat dengan serius. Aku ingin dia tahu bahwa aku memang bisa membuat makan siang yang enak. Aku ingin dia mengatakan 'Lezat' tapi dari lubuk hatinya.

Aku mendorong tubuhku ke depan, mendekati telinganya. Hanya kami berdua di dalam tirai ini sekarang, jadi aku bisa jujur ​​pada diriku sendiri.

“Aku ingin kesempatan kedua.”

"Sebuah kesempatan…?"

"Tepat sekali. Aku ingin membuatkan kotak makan siang lagi untukmu.”

Saat aku meminta ini, aku bisa melihat Tsuyoshi-kun menjadi pucat. Dia menutup mulutnya dengan satu tangan dan mulai gemetar.

“M-Makan siang itu…sekali lagi…?”

Giginya gemeretak ketakutan, membuatnya tampak seperti akan muntah. Melihat reaksi itu, saya menyadari bahwa kotak makan siangku telah menimbulkan trauma parah padanya. Aku yakin dia tidak akan memakan makan siangku lagi. Kami tidak akan pernah bisa bersenang-senang bersama selama istirahat makan siang. Fantasi bahagiaku hancur seperti istana pasir.

"Maafkan aku...Maafkan aku..." Aku menyingkirkan tirai dan berlari keluar dari rumah sakit.

“Machika?! Apa yang terjadi?!"

Aku mendengar suara Mayuko di belakangku, tapi aku mengabaikannya dan terus berlari.

"Waaaaaah!"

Raunganku yang dipenuhi air mata bergema di lorong-lorong.

---

29 Juni,

Upayaku untuk menunjukkan kurangnya feminitasku berhasil.

Aku pikir citra Tsuyoshi-kun tentang 'Sako Machika yang sempurna' sudah hilang.

Namun, dia mungkin tidak akan pernah menyentuh kotak makan siang buatanku lagi.

Meskipun rencanaku berhasil, aku merasa sangat sedih.

Sungguh, apa yang sedang aku lakukan.


Anda mungkin menyukai postingan ini

disqus